Skip navigation

SANG BERKAH
Karya : Djadi Partowidjojo

Jika gajah hanya besar dan gagah
Jika macan hanya raja yang suka marah
Jika elang hanya momok bagi ayam
Jika ular hanya bisa mematuk mematikan
Jika hiu hanya hantu laut musuh para nelayan
Jika ulat hanya menggeliat menggerus daun terbabat
Jika sapi, tikus, rayap, semut, kambing, cacing
Hanya kepada Sulaiman mereka-mereka tidak berani berpaling
Lalu…
Jika lebah hanya si kecil perkasa tanpa salah
Maka, kita … kalian… kami terperangah

Tubuh kecil
Kepakkan sayap, kecil
Busungkan dada, kecil
Kepalkan tangan, kecil
Dari kecil pandai memilah, meneguk cairan indah
Dari kecil keluarkan mukjizat bagaikan air bah
Dari kecil tari kan pesona membagi berkah

kepak kecil, dada kecil, kepal kecil
Jika dirambah mata merah tanda marah
Sampai titik terakhir darah
Dan rebah

       Penggunaan bahasa Indonesia yag baik dan benar bukan hanya tanggung jawab guru yang bersangkutan, tetapi menjadi tanggung jawab semua guru. Penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar akan membantu proses pembelajaran pembelajaran. Proses pembelajaran dapat dikatakan berhasil apabila terjadi interaksi dan interelasi antara guru dengan siswa. Interaksi muncul ketika siswa memahami apa yang disampaikan guru dalam kegiatan pembelajaran.
Salah satu bentuk interaksi adalah ketika siswa bertanya kepada guru dan ketika siswa menjawab menjawab pertaanyaan yang disampaikan oleh guru. Interelasi muncul dalam bentuk aktivitas dan kreativitas siswa dalam pembelajaran. Munculnya interaksi dan interelasi ini salah atunya dikarenakan guru menggunakan bahasa yang baik dan benar. Bahasa guru sangat dipahami oleh siswa dalam mengantarkan pembelajaran. Dengan demikiqan, proses pembelajaran tersebut berjalan sesuai dengan yang diharapkan guru maupun siswa.
Berkenaan dengan persoalan tersebut, saya menyarankan kepada teman-teman guru agar pada setiap kegiatan pembelajaran menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar (bahasa efektif). Banyak siswa tidak bisa mengerjakan soal bukan karena materi soal itu sulit, tetapi bahasa soal itu yng sulit dipahami. siswa dibingungkan oleh bahasa soal. Mari kita mulai dengan bahasa yang mudah dipahami oleh siswa kita. Semoga siswa kita menjadi lebih cerdas karena guru menggunakan bahasa dengan cerdas pula. Semoga.

Dirgahayau RI ataukah Dirgahayu HUT RI Read More »

DAFTAR ISI

Halaman Read More »

PENULISAN/PENYUSUNAN DAFTAR PUSTAKA

Unsur-unsur daftar pustaka meliputi: Read More »

Kalimat yang Berobjek dan Berpelengkap

Dlam bahasa Indonesia dikenal lima (5) sebutan fungsi kalimat, yakni Subjek (S), Predikat (P), Objek (O) Pelengkap (Pel), dan Keterangan (K). kelima fungsi tersebut kedudukannya antara lain dapat dilihat dalam contoh kalimat berikut.

1. Ayah Kresna menulis buku pelajaran.

S               P               O

2. Kaosnya bergambarkan burung merpati.

S                 P                     Pel

3. Kakak membelikan Anto buku pelajaran.

S                P           O          Pel

Jika diperhatikan dalam kalimat di atas, fungsi objek (O) dan pelengkap (Pel) selalu di belakang predikat (P). Atas dasar itu, antara keduanya sering dipersamakan. Padahal di antara keduanya terdapat karakteristik yang berbeda. Perbedaan-perbedaan tersebut dapat dilihat pada table berikut.

No.

Objek

Pelengkap

1.

Katagori katanya berupa nomina atau benda.

Kresna membaca buku.

Selain nomina, pelengkap bisa diisi olehajektif

Adik bermain bola.

Bajunya berwarna hijau.

2.

Berada langsung di belakang verba transitif aktif tanpa preposisi

Ronaldo menendang bola.

Berada di belakang verba semitransitif atau dwitransitif dan dapat didahului oleh preposisi

-Mereka bermain tenis(semitransitif)

-Ayah memerintahkan kakak bersenam   pagi(dwitransitif)

-Ibu berkata bahwa adik sedang sakit (bahwa=peposisi)

3.

Dapat menjadi subjek dalam kalimat pasif

-Wasit meniup peluit.

O

-Peluit ditiup wasit.

S

Tidak dapat dijadikan bentuk pasif

-Adik bermain bola basket.

Pel

-Bola basket bermain adik (?).

4.

Dapat diganti dengan bentuk nya-

-Adik menyantap makanan.

-Adik mmenyantapnya.

Tidak dapat diganti dengan bentuk –nya

Kecuali didahului oleh preposisi

-Negara ini berdasar  hukum.

Negara ini berdasarnya (?)

-Negara ini berdasar pada hukum.

Negara ini berdasar padanya.

Diambil dari : Bimbingan pemantapan Bahasa Indonesia, E Kosasih

Tong kosong nyaring bunyinya. Makna peribahasa ini lebih kurang adalah orang yang terlalu banyak berbicara ternyata tidak mempunyai kelebihan apa-apa alias hanya ngomong doang(Jakarta). Peribahasa ini muncul karena diilhami adanya kenyataan bahwa tong (tempat air atau minyak yang terbuat dari seng/plat) yang kosong apabila dipukul nyaring bunyinya. Namun, apabila tong itu berisi air atau minyak ketika dipukul tidak akan berbunyi nyaring.
Sekarang coba perhatikan peribahasa berikut : Habis manis sepah dibuah. Peribahasa ini diilhami suatu kenyataan bahwa ketika orang selesai makan tebu, sepahnya kan dibuang. Sepah dibuang karena sudah habis manisnya, dan tidak mungkin ditelan. Artinya, sepah itu tidak lagi mempunyai manfaat lagi. Namun, apabila tebu yang diambil rasa manisnya itu berjumlah banyak, tentu sepahnya juga banyak. Apakah dulu sepah yang banyak bahkan bertumpuk-tumpuk itu juga dibuang? Di era sekarang sepah yang dikeluarkan oleh pabrik gula, baik yang moderen maupun tradisional ternyata dimanfaatkan betul. Sepah itu dijadikan sebagai bahan baku kertas, untuk membakar batu bata, dan sebagainya. Artinya, berdasarkan kenyataan itu sepah masih bermanfaat dan masih digunakan oleh orang. Jika arti peribahasa tersebut adalah sesudah tidak berguna/bermanfaat lalu tidak dipedulikan lagi, masih relevankah peribahasa tersebut dengan kenyataan sekarang? Tentu tidak sesederhana itu. tinggal dari mana kita memandang dan mengambil maknanya.

Pidato dikatakan menarik apabila perhatian pendengar betul-betul terpusat pada orator. Perhatian terpusat pada orator karena tema pidato yang aktual, isinya yang menarik, di samping cara menyampaikannya yang tepat pula.
Pada dasarnya sistematika pidato sangat sederhana, yaitu terdiri dari pembukaan, isi, dan penutup. Pada bagian pembukaan, orang cenderung menyampaikan hal-hal yang umum, misalnya : ucapan penghormatan pada hadirin secara berjenjang; ucapan rasa syukur pada Tuhan; dan sebagainya yang sifatnya hanya basa-basi. Padahal, pada bagian inilah ada sebuah kesempatan bagi pembicara untuk membangun sebuah image agar pendengar tertarik untuk mengikuti pidato dengan antusias. Pada bagian ini pembicara bisa mempengaruhi emosi pendengar. Pada bagian ini pembicara bisa memberikan sebuah pengantar sebelum menuju isi. Pengantar dapat berupa anekdot, peribahasa, pantun, slogan-slogan, contoh-contoh peristiwa yang sesuai dengan tema pidato. Misalnya, hujan emas di negeri orang, hujan batu di negeri sendiri. Peribahasa ini bisa dijelaskan dulu maknanya dan bisa digunakan untuk menghantar pidato yang temanya cinta tanah air. Demikian seterusnya, teknik menarik simpati pendengar perlu dilakukan agar pidato tidak sia-sia.

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.