Lewati navigasi

Tag Archives: Relevansi Makna

Tong kosong nyaring bunyinya. Makna peribahasa ini lebih kurang adalah orang yang terlalu banyak berbicara ternyata tidak mempunyai kelebihan apa-apa alias hanya ngomong doang(Jakarta). Peribahasa ini muncul karena diilhami adanya kenyataan bahwa tong (tempat air atau minyak yang terbuat dari seng/plat) yang kosong apabila dipukul nyaring bunyinya. Namun, apabila tong itu berisi air atau minyak ketika dipukul tidak akan berbunyi nyaring.
Sekarang coba perhatikan peribahasa berikut : Habis manis sepah dibuah. Peribahasa ini diilhami suatu kenyataan bahwa ketika orang selesai makan tebu, sepahnya kan dibuang. Sepah dibuang karena sudah habis manisnya, dan tidak mungkin ditelan. Artinya, sepah itu tidak lagi mempunyai manfaat lagi. Namun, apabila tebu yang diambil rasa manisnya itu berjumlah banyak, tentu sepahnya juga banyak. Apakah dulu sepah yang banyak bahkan bertumpuk-tumpuk itu juga dibuang? Di era sekarang sepah yang dikeluarkan oleh pabrik gula, baik yang moderen maupun tradisional ternyata dimanfaatkan betul. Sepah itu dijadikan sebagai bahan baku kertas, untuk membakar batu bata, dan sebagainya. Artinya, berdasarkan kenyataan itu sepah masih bermanfaat dan masih digunakan oleh orang. Jika arti peribahasa tersebut adalah sesudah tidak berguna/bermanfaat lalu tidak dipedulikan lagi, masih relevankah peribahasa tersebut dengan kenyataan sekarang? Tentu tidak sesederhana itu. tinggal dari mana kita memandang dan mengambil maknanya.

Iklan